<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Damai</title>
	<atom:link href="http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://harimintangtono.co.cc</link>
	<description>Hari Mintangtono</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 May 2012 00:59:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ernest Douwes Dekker</title>
		<link>http://harimintangtono.co.cc/?p=346</link>
		<comments>http://harimintangtono.co.cc/?p=346#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 00:58:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harimintangtono.co.cc/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi; lahir di Pasuruan, Hindia-Belanda, 8 Oktober 1879 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950 pada umur 70 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia.
Ia adalah salah seorang peletak dasar nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20, penulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-348" title="Douwes" src="http://harimintangtono.co.cc/wp-content/uploads/2012/05/Douwes.jpg" alt="Douwes" width="164" height="213" />Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi; lahir di Pasuruan, Hindia-Belanda, 8 Oktober 1879 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950 pada umur 70 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia.</p>
<p>Ia adalah salah seorang peletak dasar nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20, penulis yang kritis terhadap kebijakan pemerintah penjajahan Hindia-Belanda, wartawan, aktivis politik, serta penggagas nama &#8220;Nusantara&#8221; sebagai nama untuk Hindia-Belanda yang merdeka. Setiabudi adalah salah satu dari &#8220;Tiga Serangkai&#8221; pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia, selain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat.<br />
<span id="more-346"></span>Ernest adalah anak ketiga (dari empat bersaudara) pasangan Auguste Henri Edouard Douwes Dekker (Belanda totok), seorang pialang bursa efek dan agen bank,[1] dan Louisa Margaretha Neumann, seorang Indo dari ayah Jerman dan ibu Jawa. Dengan pekerjaannya itu, Auguste termasuk orang yang berpenghasilan tinggi. Ernest, biasa dipanggil &#8220;Nes&#8221; oleh orang-orang dekatnya atau &#8220;DD&#8221; oleh rekan-rekan seperjuangannya, masih terhitung saudara dari pengarang buku Max Havelaar, yaitu Eduard Douwes Dekker (Multatuli), yang merupakan adik kakeknya.[2] Olaf Douwes Dekker, cucu dari Guido, saudaranya, menjadi penyair di Breda, Belanda.</p>
<p>DD menikah dengan Clara Charlotte Deije (1885-1968), anak dokter campuran Jerman-Belanda pada tahun 1903, dan mendapat lima anak, namun dua di antaranya meninggal sewaktu bayi (keduanya laki-laki). Yang bertahan hidup semuanya perempuan. Perkawinan ini kandas pada tahun 1919 dan keduanya bercerai.</p>
<p>Kemudian DD menikah lagi dengan Johanna Petronella Mossel (1905-1978), seorang Indo keturunan Yahudi, pada tahun 1927. Johanna adalah guru yang banyak membantu kegiatan kesekretariatan Ksatrian Instituut, sekolah yang didirikan DD. Dari perkawinan ini mereka tidak dikaruniai anak. Di saat DD dibuang ke Suriname pada tahun 1941 pasangan ini harus berpisah, dan di kala itu kemudian Johanna menikah dengan Djafar Kartodiredjo, yang juga merupakan seorang Indo (sebelumnya dikenal sebagai Arthur Kolmus), tanpa perceraian resmi terlebih dahulu. Tidak jelas apakah DD mengetahui pernikahan ini karena ia selama dalam pengasingan tetap berkirim surat namun tidak dibalas.</p>
<p>Sewaktu DD &#8220;kabur&#8221; dari Suriname dan menetap sebentar di Belanda (1946), ia menjadi dekat dengan perawat yang mengasuhnya, Nelly Alberta Geertzema née Kruymel, seorang Indo yang berstatus janda beranak satu. Nelly kemudian menemani DD yang menggunakan nama samaran pulang ke Indonesia agar tidak ditangkap intelijen Belanda. Mengetahui bahwa Johanna telah menikah dengan Djafar, DD tidak lama kemudian menikahi Nelly, pada tahun 1947. DD kemudian menggunakan nama Danoedirdja Setiabuddhi dan Nelly menggunakan nama Haroemi Wanasita, nama-nama yang diusulkan oleh Sukarno. Sepeninggal DD, Haroemi menikah dengan Wayne E. Evans pada tahun 1964 dan kini tinggal di Amerika Serikat.</p>
<p>Walaupun mencintai anak-anaknya, DD tampaknya terlalu berfokus pada perjuangan idealismenya sehingga perhatian pada keluarga agak kurang dalam. Ia pernah berkata kepada kakak perempuannya, Adelin, kalau yang ia perjuangkan adalah untuk memberi masa depan yang baik kepada anak-anaknya di Hindia kelak yang merdeka. Pada kenyataannya, semua anaknya meninggalkan Indonesia menuju ke Belanda ketika Jepang masuk. Demikian pula semua saudaranya, tidak ada yang memilih menjadi warga negara Indonesia.<br />
Masa muda</p>
<p>Pendidikan dasar ditempuh Nes di Pasuruan. Sekolah lanjutan pertama-tama diteruskan ke HBS di Surabaya, lalu pindah ke Gymnasium Willem III, suatu sekolah elit di Batavia. Selepas lulus sekolah ia bekerja di perkebunan kopi &#8220;Soember Doeren&#8221; di Malang, Jawa Timur. Di sana ia menyaksikan perlakuan semena-mena yang dialami pekerja kebun, dan sering kali membela mereka. Tindakannya itu membuat ia kurang disukai rekan-rekan kerja, namun disukai pegawai-pegawai bawahannya. Akibat konflik dengan manajernya, ia dipindah ke perkebunan tebu &#8220;Padjarakan&#8221; di Kraksaan sebagai laboran.[1] Sekali lagi, dia terlibat konflik dengan manajemen karena urusan pembagian irigasi untuk tebu perkebunan dan padi petani. Akibatnya, ia dipecat.<br />
Perang Boer</p>
<p>Menganggur dan kematian mendadak ibunya, membuat Nes memutuskan berangkat ke Afrika Selatan pada tahun 1899 untuk ikut dalam Perang Boer Kedua melawan Inggris.[2] Ia bahkan menjadi warga negara Republik Transvaal.[1] Beberapa bulan kemudian kedua saudara laki-lakinya, Julius dan Guido, menyusul. Nes tertangkap lalu dipenjara di suatu kamp di Ceylon. Di sana ia mulai berkenalan dengan sastera India, dan perlahan-lahan pemikirannya mulai terbuka akan perlakuan tidak adil pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap warganya.<br />
ebagai wartawan yang kritis dan aktivitas awal</p>
<p>DD dipulangkan ke Hindia Belanda pada tahun 1902, dan bekerja sebagai agen pengiriman KPM, perusahaan pengiriman milik negara. Penghasilannya yang lumayan membuatnya berani menyunting Clara Charlotte Deije, putri seorang dokter asal Jerman yang tinggal di Hindia Belanda, pada tahun 1903.</p>
<p>Kemampuannya menulis laporan pengalaman peperangannya di surat kabar terkemuka membuat ia ditawari menjadi reporter koran Semarang terkemuka, De Locomotief. Di sinilah ia mulai merintis kemampuannya dalam berorganisasi. Tugas-tugas jurnalistiknya, seperti ke perkebunan di Lebak dan kasus kelaparan di Indramayu, membuatnya mulai kritis terhadap kebijakan kolonial. Ketika ia menjadi staf redaksi Bataviaasch Nieuwsblad, 1907, tulisan-tulisannya menjadi semakin pro kaum Indo dan pribumi. Dua seri artikel yang tajam dibuatnya pada tahun 1908. Seri pertama artikel dimuat Februari 1908 di surat kabar Belanda Nieuwe Arnhemsche Courant setelah versi bahasa Jermannya dimuat di koran Jerman Das Freie Wort, &#8220;Het bankroet der ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie&#8221; (&#8221;Kebangkrutan prinsip etis di Hindia Belanda&#8221;) kemudian pindah di Bataviaasche Nieuwsblad. Sekitar tujuh bulan kemudian (akhir Agustus) seri tulisan panas berikutnya muncul di surat kabar yang sama, &#8220;Hoe kan Holland het spoedigst zijn koloniën verliezen?&#8221; (&#8221;Bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangan koloni-koloninya?&#8221;, versi Jermannya berjudul &#8220;Hollands kolonialer Untergang&#8221;). Kembali kebijakan politik etis dikritiknya. Tulisan-tulisan ini membuatnya mulai masuk dalam radar intelijen penguasa.[3]</p>
<p>Rumah DD, pada saat yang sama, yang terletak di dekat Stovia menjadi tempat berkumpul para perintis gerakan kebangkitan nasional Indonesia, seperti Sutomo dan Cipto Mangunkusumo, untuk belajar dan berdiskusi. Budi Utomo (BO), organisasi yang diklaim sebagai organisasi nasional pertama, lahir atas bantuannya. Ia bahkan menghadiri kongres pertama BO di Yogyakarta.</p>
<p>Aspek pendidikan tak luput dari perhatian DD. Pada tahun 1910 (8 Maret) ia turut membidani lahirnya Indische Universiteit Vereeniging (IUV), suatu badan penggalang dana untuk memungkinkan dibangunnya lembaga pendidikan tinggi (universitas) di Hindia Belanda. Di dalam IUV terdapat orang Belanda, orang-orang Indo, aristokrat Banten dan perwakilan dari organisasi pendidikan kaum Tionghoa THHK.<br />
Indische Partij</p>
<p>Karena menganggap BO terbatas pada masalah kebudayaan (Jawa), DD tidak banyak terlibat di dalamnya. Sebagai seorang Indo, ia terdiskriminasi oleh orang Belanda murni (&#8221;totok&#8221; atau trekkers). Sebagai contoh, orang Indo tidak dapat menempati posisi-posisi kunci pemerintah karena tingkat pendidikannya. Mereka dapat mengisi posisi-posisi menengah dengan gaji lumayan tinggi. Untuk posisi yang sama, mereka mendapat gaji yang lebih tinggi daripada pribumi. Namun, akibat politik etis, posisi mereka dipersulit karena pemerintah koloni mulai memberikan tempat pada orang-orang pribumi untuk posisi-posisi yang biasanya diisi oleh Indo. Tentu saja pemberi gaji lebih suka memilih orang pribumi karena mereka dibayar lebih rendah. Keprihatinan orang Indo ini dimanfaatkan oleh DD untuk memasukkan idenya tentang pemerintahan sendiri Hindia Belanda oleh orang-orang asli Hindia Belanda (Indiërs) yang bercorak inklusif dan mendobrak batasan ras dan suku. Pandangan ini dapat dikatakan original, karena semua orang pada masa itu lebih aktif pada kelompok ras atau sukunya masing-masing.</p>
<p>Berangkat dari organisasi kaum Indo, Indische Bond dan Insulinde, ia menyampaikan gagasan suatu &#8220;Indië&#8221; (Hindia) baru yang dipimpin oleh warganya sendiri, bukan oleh pendatang. Ironisnya, di kalangan Indo ia mendapat sambutan hangat hanya di kalangan kecil saja, karena sebagian besar dari mereka lebih suka dengan status quo, meskipun kaum Indo direndahkan oleh kelompok orang Eropa &#8220;murni&#8221; toh mereka masih dapat dilayani oleh pribumi.</p>
<p>Tidak puas karena Indische Bond dan Insulinde tidak bisa bersatu, pada tahun 1912 Nes bersama-sama dengan Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat mendirikan partai berhaluan nasionalis inklusif bernama Indische Partij (&#8221;Partai Hindia&#8221;).[1][4] Kampanye ke beberapa kota menghasilkan anggota berjumlah sekitar 5000 orang dalam waktu singkat. Semarang mencatat jumlah anggota terbesar, diikuti Bandung. Partai ini sangat populer di kalangan orang Indo, dan diterima baik oleh kelompok Tionghoa dan pribumi, meskipun tetap dicurigai pula karena gagasannya yang radikal. Partai yang anti-kolonial dan bertujuan akhir kemerdekaan Indonesia ini dibubarkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda setahun kemudian, 1913 karena dianggap menyebarkan kebencian terhadap pemerintah.</p>
<p>Akibat munculnya tulisan terkenal Suwardi di De Expres, &#8220;Als Ik Een Nederlander Was&#8221; (Seandainya Aku Seorang Belanda), ketiganya lalu diasingkan ke Belanda, karena DD dan Cipto mendukung Suwardi.<br />
Dalam pembuangan di Eropa</p>
<p>Masa di Eropa dimanfaatkan oleh Nes untuk mengambil program doktor di Universitas Zürich, Swiss, dalam bidang ekonomi. Di sini ia tinggal bersama-sama keluarganya. Gelar doktor diperoleh secara agak kontroversial dan dengan nilai &#8220;serendah-rendahnya&#8221;, menurut istilah salah satu pengujinya. Karena di Swis ia terlibat konspirasi dengan kaum revolusioner India, ia ditangkap di Hong Kong dan diadili dan ditahan di Singapura (1918). Setelah dua tahun dipenjara, ia pulang ke Hindia Belanda 1920.<br />
Kegiatan jurnalistik dan Peristiwa Polanharjo</p>
<p>Sekembalinya ia ke Batavia setelah dipenjara DD aktif kembali dalam dunia jurnalistik dan organisasi. Ia menjadi redaktur organ informasi Insulinde yang bernama De Beweging. Ia menulis beberapa seri artikel yang banyak menyindir kalangan pro-koloni serta sikap kebanyakan kaumnya: kaum Indo. Targetnya sebetulnya adalah de-eropanisasi orang Indo, agar mereka menyadari bahwa demi masa depan mereka berada di pihak pribumi, bukan seperti yang terjadi, berpihak ke Belanda. Organisasi kaum Indo yang baru dibentuk, Indisch Europeesch Verbond (IEV), dikritiknya dalam seri tulisan &#8220;De tien geboden&#8221; (Sepuluh Perintah Tuhan) dan &#8220;Njo Indrik&#8221; (Sinyo Hendrik). Pada seri yang disebut terakhir, IEV dicap olehnya sebagai &#8220;liga yang konyol dan kekanak-kanakan&#8221;.</p>
<p>Sejumlah pamflet lepas yang cukup dikenal juga ditulisnya pada periode ini, seperti &#8220;Een Natie in de maak&#8221; (Suatu bangsa tengah terbentuk) dan &#8220;Ons volk en het buitenlandsche kapitaal&#8221; (Bangsa kita dan modal asing).</p>
<p>Pada rentang masa ini dibentuk pula Nationaal Indische Partij (NIP), sebagai organisasi pelanjut Indische Partij yang telah dilarang. Pembentukan NIP menimbulkan perpecahan di kalangan anggota Insulinde antara yang moderat (kebanyakan kalangan Indo) dan yang progresif (menginginkan pemerintahan sendiri, kebanyakan orang Indonesia pribumi). NIP akhirnya bernasib sama seperti IP: tidak diizinkan oleh Pemerintah.</p>
<p>Pada tahun 1919, DD terlibat (atau tersangkut) dalam peristiwa protes dan kerusuhan petani/buruh tani di perkebunan tembakau Polanharjo, Klaten. Ia terkena kasus ini karena dianggap mengompori para petani dalam pertemuan mereka dengan orang-orang Insulinde cabang Surakarta, yang ia hadiri pula. Pengadilan dilakukan pada tahun 1920 di Semarang. Hasilnya, ia dibebaskan; namun kasus baru menyusul dari Batavia: ia dituduh menulis hasutan di surat kabar yang dipimpinnya. Kali ini ia harus melindungi seseorang (sebagai redaktur De Beweging) yang menulis suatu komentar yang di dalamnya tertulis &#8220;Membebaskan negeri ini adalah keharusan! Turunkan penguasa asing!&#8221;. Yang membuatnya kecewa adalah ternyata alasan penyelidikan bukanlah semata tulisan itu, melainkan &#8220;mentalitas&#8221; sang penulis (dan dituduhkan ke DD). Setelah melalui pembelaan yang panjang, DD divonis bebas oleh pengadilan.<br />
Aktivitas pendidikan dan Ksatrian Instituut</p>
<p>Sekeluarnya dari tahanan dan rentetan pengadilan, DD cenderung meninggalkan kegiatan jurnalistik dan menyibukkan diri dalam penulisan sejumlah buku semi-ilmiah dan melakukan penangkaran anjing gembala Jerman dan aktif dalam organisasinya. Prestasinya cukup mengesankan, karena salah satu anjingnya memenangi kontes dan bahkan mampu menjawab beberapa pertanyaan berhitung dan menjawab beberapa pertanyaan tertulis.</p>
<p>Atas dorongan Suwardi Suryaningrat yang saat itu sudah mendirikan Perguruan Taman Siswa, ia kemudian ikut dalam dunia pendidikan, dengan mendirikan sekolah &#8220;Ksatrian Instituut&#8221; (KI) di Bandung. Ia banyak membuat materi pelajaran sendiri yang instruksinya diberikan dalam bahasa Belanda. KI kemudian mengembangkan pendidikan bisnis, namun di dalamnya diberikan pelajaran sejarah Indonesia dan sejarah dunia yang materinya ditulis oleh Nes sendiri. Akibat isi pelajaran sejarah ini yang anti-kolonial dan pro-Jepang, pada tahun 1933 buku-bukunya disita oleh pemerintah Keresidenan Bandung dan kemudian dibakar. Pada saat itu Jepang mulai mengembangkan kekuatan militer dan politik di Asia Timur dengan politik ekspansi ke Korea dan Tiongkok. DD kemudian juga dilarang mengajar.<br />
Kegiatan sebelum pembuangan</p>
<p>Karena dilarang mengajar, DD kemudian mencari penghasilan dengan bekerja di kantor Kamar Dagang Jepang di Jakarta. Ini membuatnya dekat dengan Mohammad Husni Thamrin, seorang wakil pribumi di Volksraad. Pada saat yang sama, pemerintah Hindia Belanda masih trauma akibat pemberontakan komunis (ISDV) tahun 1927, memecahkan masalah ekonomi akibat krisis keuangan 1929, dan harus menghadapi perkembangan fasisme ala Nazi di kalangan warga Eropa (Europaeer).</p>
<p>Serbuan Jerman ke Denmark dan Norwegia, dan akhirnya ke Belanda, pada tahun 1940 mengakibatkan ditangkapnya ribuan orang Jerman di Hindia Belanda, berikut orang-orang Eropa lain yang diduga berafiliasi Nazi. DD yang memang sudah &#8220;dipantau&#8221;, akhirnya ikut digaruk karena dianggap kolaborator Jepang, yang mulai menyerang Indocina Perancis. Ia juga dituduh komunis.<br />
Pengasingan di Suriname</p>
<p>DD ditangkap dan dibuang ke Suriname pada tahun 1941 melalui Belanda. Di sana ia ditempatkan di suatu kamp jauh di pedalaman Sungai Suriname yang bernama Jodensavanne (&#8221;Padang Yahudi&#8221;).[2] Tempat itu pada abad ke-17 hingga ke-19 pernah menjadi tempat pemukiman orang Yahudi yang kemudian ditinggalkan karena kemudian banyak pendatang yang membuat keonaran.</p>
<p>Kondisi kehidupan di kamp sangat memprihatinkan. Sampai-sampai DD, yang waktu itu sudah memasuki usia 60-an, sempat kehilangan kemampuan melihat. Di sini kehidupannya sangat tertekan karena ia sangat merindukan keluarganya. Surat-menyurat dilakukannya melalui Palang Merah Internasional dan harus melalui sensor.</p>
<p>Ketika kabar berakhirnya perang berakhir, para interniran (buangan) di sana tidak segera dibebaskan. Baru menjelang pertengahan tahun 1946 sejumlah orang buangan dikirim ke Belanda, termasuk DD. Di Belanda ia bertemu dengan Nelly Albertina Gertzema nee Kruymel, seorang perawat. Nelly kemudian menemaninya kembali ke Indonesia. Kepulangan ke Indonesia juga melalui petualangan yang mendebarkan karena DD harus mengganti nama dan menghindari petugas intelijen di Pelabuhan Tanjung Priok. Akhirnya mereka berhasil tiba di Yogyakarta, ibukota Republik Indonesia pada waktu itu pada tanggal 2 Januari 1947.<br />
Perjuangan pada masa Revolusi Kemerdekaan dan akhir hayat</p>
<p>Tak lama setelah kembali ia segera terlibat dalam posisi-posisi penting di sisi Republik Indonesia. Pertama-tama ia menjabat sebagai menteri negara tanpa portofolio dalam Kabinet Sjahrir III, yang hanya bekerja dalam waktu hampir 9 bulan. Selanjutnya berturut-turut ia menjadi anggota delegasi negosiasi dengan Belanda, konsultan dalam komite bidang keuangan dan ekonomi di delegasi itu, anggota DPA, pengajar di Akademi Ilmu Politik, dan terakhir sebagai kepala seksi penulisan sejarah (historiografi) di bawah Kementerian Penerangan. Di mata beberapa pejabat Belanda ia dianggap &#8220;komunis&#8221; meskipun ini sama sekali tidak benar.</p>
<p>Pada periode ini DD tinggal satu rumah dengan Sukarno. Ia juga menempati salah satu rumah di Kaliurang. Dan dari rumah di Kaliurang inilah pada tanggal 21 Desember 1948 ia diciduk tentara Belanda yang tiba dua hari sebelumnya di Yogyakarta dalam rangka &#8220;Aksi Polisionil&#8221;. Setelah diinterogasi ia lalu dikirim ke Jakarta untuk diinterogasi kembali.</p>
<p>Tak lama kemudian DD dibebaskan karena kondisi fisiknya yang payah dan setelah berjanji tak akan melibatkan diri dalam politik. Ia dibawa ke Bandung atas permintaannya. Harumi kemudian menyusulnya ke Bandung. Setelah renovasi, mereka lalu menempati rumah lama (dijulukinya &#8220;Djiwa Djuwita&#8221;) di Lembangweg.</p>
<p>Di Bandung ia terlibat kembali dengan aktivitas di Ksatrian Instituut. Kegiatannya yang lain adalah mengumpulkan material untuk penulisan autobiografinya (terbit 1950: 70 jaar konsekwent) dan merevisi buku sejarah tulisannya.</p>
<p>Ernest Douwes Dekker wafat dini hari tanggal 28 Agustus 1950 (tertulis di batu nisannya; 29 Agustus 1950 versi van der Veur, 2006) dan dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung.<br />
Penghargaan</p>
<p>Jasa DD dalam perintisan kemerdekaan diekspresikan dalam banyak hal. Di setiap kota besar dapat dijumpai jalan yang dinamakan menurut namanya: Setiabudi. Jalan Lembang di Bandung utara, tempat rumahnya berdiri, sekarang bernama Jalan Setiabudi. Di Jakarta bahkan namanya dipakai sebagai nama suatu kecamatan, yakni Kecamatan Setiabudi di Jakarta Selatan.</p>
<p>Di Belanda, nama DD juga dihormati sebagai orang yang berjasa dalam meluruskan arah kolonialisme (meskipun hampir sepanjang hidupnya ia berseberangan posisi politik dengan pemerintah kolonial Belanda; bahkan dituduh &#8220;pengkhianat&#8221;).</p>
<p>Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Ernest_Douwes_Dekker</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2&amp;p=346</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>H.O.S. Cokroaminoto</title>
		<link>http://harimintangtono.co.cc/?p=338</link>
		<comments>http://harimintangtono.co.cc/?p=338#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 00:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harimintangtono.co.cc/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[


Nama : Haji Oemar Said Cokroaminoto


Lahir : Desa Bakur, Madiun, Jawa Timur, 16 Agustus 1883


Pekerjaan : Ketua Sarikat Islam
Meninggal: Surabaya, 17 Desember 1934

Riwayat pendidikan:
OSVIA (sekolah pamongpraja) di Magelang

.
.
.
.

 Riwayat pekerjaan:
 

Juru tulis di Ngawi, 1902
Bekerja pada perusahaan dagang, Surabaya



Organisasi:

Sarekat Dagang Islam (SDI), 10 September 1912 menjadi Sarekat Islam (SI)
Komisaris, Ketua Sarikat Islam



Jasa-jasa:

25  November 1918, mengajukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StyleSheet Link--><!--StyleSheet Link--></p>
<div>
<div><img class="alignleft size-full wp-image-339" style="margin: 4px;" title="cokroaminoto_1" src="http://harimintangtono.co.cc/wp-content/uploads/2012/05/cokroaminoto_1.jpg" alt="cokroaminoto_1" width="188" height="206" /></div>
<div>Nama : Haji Oemar Said Cokroaminoto</div>
</div>
<div>
<div>Lahir : Desa Bakur, Madiun, Jawa Timur, 16 Agustus 1883</div>
</div>
<div>
<div>Pekerjaan : Ketua Sarikat Islam</div>
<p>Meninggal: Surabaya, 17 Desember 1934</p></div>
<div>
<div>Riwayat pendidikan:</div>
<p>OSVIA (sekolah pamongpraja) di Magelang</p></div>
<div>
<p><strong>.</strong></p>
<p><strong>.</strong></p>
<p><strong>.</strong></p>
<p><strong>.<br />
</strong></p>
<p><strong> </strong>Riwayat pekerjaan:</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Juru tulis di Ngawi, 1902</li>
<li>Bekerja pada perusahaan dagang, Surabaya</li>
</ul>
</div>
<div>
<div><strong>Organisasi:</strong></div>
<ul>
<li>Sarekat Dagang Islam (SDI), 10 September 1912 menjadi Sarekat Islam (SI)</li>
<li>Komisaris, Ketua Sarikat Islam</li>
</ul>
</div>
<div>
<div><strong>Jasa-jasa:</strong></div>
<ul>
<li>25  November 1918, mengajukan Mosi Cokroaminoto yang menuntut pemerintah  Belanda supaya membentuk parlemen yang anggota-anggotanya dipilih dari  rakyat dan oleh rakyat.</li>
<li>Mengecam pemerintah Belanda yang membuat rakyat Indonesia menderita, lewat pidato</li>
<li>Mendesak Sumatera Landsyndicaat untuk mengembalikan tanah rakyat di Gunung Seminung (tepi danau Ranau, Sumatera Selatan)</li>
<li>Menuntut kesetaraan dokter-dokter Indonesia dengan dokter-dokter Belanda</li>
</ul>
</div>
<div>
<div>Buku:</div>
<p>Islam dan Sosialisme</p></div>
<div>
<div>Gelar kepahlawanan:</div>
<p>Pahlawan Kemerdekaan Nasional (SK Presiden Republik Indonesia No.590 Tahun 1961, tanggal 9 Nopember 1961)</p></div>
<div>Pusat Data Tokoh Indonesia</div>
<div><span id="more-338"></span></div>
<div><!--StyleSheet Link--><!--StyleSheet Link--><span>A</span>walnya  kehidupan Haji Oemar Said Tjokroaminoto terbilang biasa-biasa saja.  Semasa kecil ia dikenal sebagai anak yang nakal dan suka berkelahi.  Setelah beberapa kali berpindah sekolah, akhirnya ia berhasil  menyelesaikan sekolahnya di OSVIA (sekolah calon pegawai pemerintah atau  pamong praja) di Magelang pada 1902. Setelah menamatkan sekolahnya, ia  bekerja sebagai seorang juru tulis di Ngawi. Tiga tahun kemudian ia  bekerja di perusahaan dagang di Surabaya.</p>
<p>Kepindahannya ke  Surabaya membawanya terjun ke dunia politik. Di kota pahlawan itu ia  kemudian bergabung dalam Sarekat Dagang Islam (SDI). Ia menyarankan agar  SDI diubah menjadi partai politik. SDI kemudian resmi diubah menjadi SI  (Sarekat Islam) pada 10 September 1912.</p>
<p>Cokroaminoto dipercaya  untuk memangku jabatan ketua setelah sebelumnya menjabat sebagai  komisaris SI. Di bawah kepemimpinannya, SI mengalami kemajuan pesat dan  berkembang menjadi partai massa sehingga menimbulkan kekhawatiran  pemerintah Belanda.</p>
<p>Pemerintah Hindia Belanda berupaya menghalangi  SI yang termasuk organisasi Islam terbesar pada saat itu. Pemerintah  kolonial sangat membatasi kekuasaan pengurus pusat (Centraal Sarekat  Islam) dan organisasi SI (afdeling SI) mudah diawasi dan dipengaruhi  pangreh praja setempat. Situasi itu menjadikan SI menghadapi kesenjangan  antara pusat dan daerah yang menyebabkan kesulitan dalam mobilisasi  para anggotanya.</p>
<p>Pada periode tahun 1912-1916, Cokroaminoto dan  para pemimpin SI lainnya sedikit bersikap moderat terhadap pemerintah  Belanda. Yang mereka perjuangkan adalah penegakan hak-hak manusia serta  meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tapi sejak tahun 1916, menghadapi  pembentukan Dewan Rakyat, suasana menjadi hangat. Dalam kongres-kongres  SI, Cokroaminoto mulai melancarkan ide pembentukan nation (bangsa) dan  pemerintahan sendiri.</p>
<p>Sebagai reaksi terhadap &#8220;Janji November&#8221;  (November Beloftem), Gubernur Jenderal van Limburgh Stirum, Cokroaminoto  selaku wakil SI dalam Volksraad bersama Abdul Muis, Cipto Mangukusumo,  atas nama kelompok radicale concentratie mengajukan mosi yang kemudian  dikenal dengan Mosi Cokroaminoto pada tanggal 25 November 1918. Mereka  menuntut: Pertama, pembentukan Dewan Negara di mana penduduk semua wakil  dari kerajaan. Kedua, pertangggungjawaban departemen/pemerintah Hindia  Belanda terhadap perwakilan rakyat. Tiga, pertangggungjawaban terhadap  perwakilan rakyat. Keempat, reformasi pemerintahan dan desentralisasi.  Intinya, mereka menuntut pemerintah Belanda membentuk parlemen yang  anggotanya dipilih dari rakyat dan oleh rakyat. Pemerintah sendiri  dituntut bertanggung jawab pada parlemen.</p>
<p>Namun, oleh Ketua  Parlemen Belanda, tuntutan tersebut dianggap hanya fantasi belaka.  Sehingga, Centraal Sarekat Islam pada kongres nasionalnya di Yogyakarta  tanggal 2-6 Maret 1921, memberikan reaksi atas sikap pemerintah Belanda  tersebut dengan merumuskan tujuan perjuangan politik SI sebagai, &#8220;Untuk  merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan Belanda&#8221;.</p>
<p>Selama  hidupnya, Cokroaminoto merupakan sosok yang berpengaruh besar terhadap  tokoh-tokoh muda pergerakan nasional saat itu. Keahliannya berpidato ia  gunakan untuk mengecam kesewenang-wenangan pemerintah Belanda. Semasa  perjuangannya, dia misalnya mengecam perampasan tanah oleh Belanda untuk  dijadikan perkebunan milik Belanda.</p>
<p>Ia juga mendesak Sumatera  Landsyndicaat supaya mengembalikan tanah rakyat di Gunung Seminung (tepi  Danau Ranau, Sumatera Selatan). Nasib para dokter pribumi juga turut  diperjuangkannya dengan menuntut kesetaraan kedudukan antara dokter  Indonesia dengan dokter Belanda.</p>
<p>Pada tahun 1920, ia dijebloskan  ke penjara dengan tuduhan menghasut dan mempersiapkan pemberontakan  untuk menggulingkan pemerintah Belanda. Pada April 1922, setelah tujuh  bulan meringkuk di penjara, ia kemudian dibebaskan. Cokroaminoto  kemudian diminta kembali untuk duduk dalam Volksraad, namun permintaan  itu ditolaknya karena ia sudah tak mau lagi bekerjasama dengan  pemerintah Belanda.</p>
<p>Sebagai tokoh masyarakat, pemerintah kolonial  menjulukinya sebagai de Ongekroonde Koning van Java (Raja Jawa yang  tidak &#8220;bermahkota&#8221; atau tidak &#8220;dinobatkan&#8221;).</p>
<p>Pengaruhnya yang luas  menjadikannya sebagai tokoh panutan masyarakat. Karena alasan itu pula  maka R.M. Soekemi Sasrodihardjo mengirimkan anaknya <span><span> Soekarno </span> Proklamator, Presiden RI Pertama (1945-1966) </span> Soekarno (kemudian menjadi presiden pertama RI) untuk pendidikan dengan in de kost di rumahnya.</p>
<p>Selain  menjadi politikus, Cokroaminoto aktif menulis karangan di majalah dan  surat kabar. Salah satu karyanya ialah buku yang berjudul Islam dan  Nasionalisme. Cokroaminoto menghembuskan nafasnya yang terakhir pada 17  Desember 1934 di Surabaya pada usia 51 tahun.</p>
<p>Atas jasa-jasanya kepada  negara, Haji Oemar Said Cokroaminoto dianugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan  Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No.590 Tahun 1961, tanggal 9  Nopember 1961</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2&amp;p=338</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I will Always Love U Mother&#8230;.</title>
		<link>http://harimintangtono.co.cc/?p=257</link>
		<comments>http://harimintangtono.co.cc/?p=257#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 04:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harimintangtono.co.cc/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah mengenai nilai kasih ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan secarik kertas yang bertuliskan sesuatu. Si Ibu segera membersihkan tangan lalu menerima kertas yang diberikan oleh si Anak dan membacanya.
”Ongkos upah membantu ibu:
1. Membantu pergi ke warung : Rp. 20.000
2. Menjaga adik: Rp. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah mengenai nilai kasih ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan secarik kertas yang bertuliskan sesuatu. Si Ibu segera membersihkan tangan lalu menerima kertas yang diberikan oleh si Anak dan membacanya.</p>
<p>”Ongkos upah membantu ibu:<br />
1. Membantu pergi ke warung : Rp. 20.000<br />
2. Menjaga adik: Rp. 20.000<br />
3. Membuang sampah: Rp. 5.000<br />
4. Membereskan tempat tidur: Rp. 10.000<br />
5. Menyiram tanaman: Rp. 15.000<br />
6. Menyapu halaman: Rp. 15.000<br />
Total: Rp. 85.000”</p>
<p><span id="more-257"></span></p>
<p>Selesai membaca, si Ibu tersenyum memandang si Anak yang raut wajahnya mulai berbinar. Si Ibu lalu mengambil pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.</p>
<p>“1. Ongkos mengandungmu selama 9 bulan: GRATIS<br />
2. Ongkos berjaga malam karena menjagamu: GRATIS<br />
3. Ongkos airmata yang menetes karenamu: GRATIS<br />
4. Ongkos khawatir karena selalu memikirkan keadaanmu: GRATIS<br />
5. Ongkos menyediakan makan, minum, pakaian &amp; keperluanmu: GRATIS<br />
Total keseluruhan Nilai Kasihku GRATIS”</p>
<p>Airmata si Anak berlinang setelah membaca. Si Anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, &#8220;Aku sayang ibu&#8221; . Kemudian si Anak mengambil pena dan menulis sesuatu di depan surat yang ditulisnya: “TELAH DIBAYAR”</p>
<p>I Love U Mom….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2&amp;p=257</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bung Tomo</title>
		<link>http://harimintangtono.co.cc/?p=249</link>
		<comments>http://harimintangtono.co.cc/?p=249#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 00:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harimintangtono.co.cc/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 – meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun)[1] lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://yusufwibisono.files.wordpress.com/2009/06/bung_tomo.jpg" alt="" width="285" height="224" />Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 – meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun)[1] lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.</p>
<p><span id="more-249"></span></p>
<p>Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.</p>
<p><strong>Masa muda</strong></p>
<p>Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.</p>
<p>Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.</p>
<p><strong>Perjuangan</strong></p>
<p>Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi, &#8220;Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!&#8221;</p>
<p>Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia.</p>
<p><strong>Setelah kemerdekaan</strong></p>
<p>Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.</p>
<p>Padahal, berbagai jabatan kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.</p>
<p>Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehinga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.</p>
<p>Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.</p>
<p>Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.</p>
<p><strong>Gelar Pahlawan Nasional</strong></p>
<p>Setelah pemerintah didesak oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) agar memberikan gelar pahlawan kepada Bung tomo pada 9 November 2007. Akhirnya gelar pahlawan nasional diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2&amp;p=249</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iwan Fals &#8211; Tikus Kantor</title>
		<link>http://harimintangtono.co.cc/?p=246</link>
		<comments>http://harimintangtono.co.cc/?p=246#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 12:36:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harimintangtono.co.cc/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/rZD1cXypwNY&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/rZD1cXypwNY&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2&amp;p=246</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iwan Fals &#8211; Bongkar</title>
		<link>http://harimintangtono.co.cc/?p=244</link>
		<comments>http://harimintangtono.co.cc/?p=244#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 12:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harimintangtono.co.cc/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/fP99l8sz7CI&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/fP99l8sz7CI&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2&amp;p=244</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mp3 Lengkap Rekaman Penyadapan Anggodo oleh KPK</title>
		<link>http://harimintangtono.co.cc/?p=242</link>
		<comments>http://harimintangtono.co.cc/?p=242#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 10:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harimintangtono.co.cc/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi1.mp3
http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi2.mp3
http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi3.mp3
http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi4.mp3
http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi5.mp3
http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi6.mp3
http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi7.mp3
http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi8.mp3
http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi9.mp3
http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi10.mp3
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;be562808d2f1240366f2c1e45351b4ac&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi1.mp3" target="_blank"><span>http://www.elshinta.com/v2</span><span>003a/sound_record/kpk-polr</span>i-versi1.mp3</a></p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;be562808d2f1240366f2c1e45351b4ac&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi2.mp3" target="_blank"><span>http://www.elshinta.com/v2</span><span>003a/sound_record/kpk-polr</span>i-versi2.mp3</a></p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;be562808d2f1240366f2c1e45351b4ac&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi3.mp3" target="_blank"><span>http://www.elshinta.com/v2</span><span>003a/sound_record/kpk-polr</span>i-versi3.mp3</a></p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;be562808d2f1240366f2c1e45351b4ac&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi4.mp3" target="_blank"><span>http://www.elshinta.com/v2</span><span>003a/sound_record/kpk-polr</span>i-versi4.mp3</a></p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;be562808d2f1240366f2c1e45351b4ac&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi5.mp3" target="_blank"><span>http://www.elshinta.com/v2</span><span>003a/sound_record/kpk-polr</span>i-versi5.mp3</a></p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;be562808d2f1240366f2c1e45351b4ac&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi6.mp3" target="_blank"><span>http://www.elshinta.com/v2</span><span>003a/sound_record/kpk-polr</span>i-versi6.mp3</a></p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;be562808d2f1240366f2c1e45351b4ac&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi7.mp3" target="_blank"><span>http://www.elshinta.com/v2</span><span>003a/sound_record/kpk-polr</span>i-versi7.mp3</a></p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;be562808d2f1240366f2c1e45351b4ac&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi8.mp3" target="_blank"><span>http://www.elshinta.com/v2</span><span>003a/sound_record/kpk-polr</span>i-versi8.mp3</a></p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;be562808d2f1240366f2c1e45351b4ac&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi9.mp3" target="_blank"><span>http://www.elshinta.com/v2</span><span>003a/sound_record/kpk-polr</span>i-versi9.mp3</a></p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;be562808d2f1240366f2c1e45351b4ac&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi10.mp3" target="_blank"><span>http://www.elshinta.com/v2</span><span>003a/sound_record/kpk-polr</span>i-versi10.mp3</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2&amp;p=242</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi1.mp3" length="209631" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi2.mp3" length="1749813" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi3.mp3" length="1471071" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi4.mp3" length="2497980" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi5.mp3" length="1660188" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi6.mp3" length="2073081" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi7.mp3" length="76680" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi8.mp3" length="5266299" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi9.mp3" length="435183" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.elshinta.com/v2003a/sound_record/kpk-polri-versi10.mp3" length="2126898" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>KPK di Dadaku</title>
		<link>http://harimintangtono.co.cc/?p=240</link>
		<comments>http://harimintangtono.co.cc/?p=240#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 10:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harimintangtono.co.cc/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/CtIHxf6lQrc&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/CtIHxf6lQrc&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2&amp;p=240</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cicak VS Buaya</title>
		<link>http://harimintangtono.co.cc/?p=235</link>
		<comments>http://harimintangtono.co.cc/?p=235#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 00:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harimintangtono.co.cc/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='http://harimintangtono.co.cc/?attachment_id=236' title='cicak'><img width="150" height="150" src="http://harimintangtono.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/cicak-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="cicak" /></a>
<a href='http://harimintangtono.co.cc/?attachment_id=237' title='cicakblog'><img width="150" height="150" src="http://harimintangtono.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/cicakblog-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="cicakblog" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2&amp;p=235</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Transkrip KPK</title>
		<link>http://harimintangtono.co.cc/?p=233</link>
		<comments>http://harimintangtono.co.cc/?p=233#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 00:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harimintangtono.co.cc/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[TRANSKRIP rekaman itu beredar di kalangan terbatas sejak hari Minggu kemarin, 25 Oktober 2009.
Anggodo ke Wisnu Subroto (22 Juli 2009:12.03)
“ nanti malam saya rencananya ngajak si Edi (Edi Soemarsono, saksi dan teman dekat mantan Ketua KPK Antasari Azhar, red.) sama Ari (Ari Muladi, tersangka kasus pemerasan dan teman Anggodo, red.) ketemu Truno-3 (Mabes Polri kerap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TRANSKRIP rekaman itu beredar di kalangan terbatas sejak hari Minggu kemarin, 25 Oktober 2009.</p>
<p><strong>Anggodo ke Wisnu Subroto (22 Juli 2009:12.03)</strong></p>
<p>“ nanti malam saya rencananya <em>ngajak</em> si Edi (Edi Soemarsono, saksi dan teman dekat mantan Ketua KPK Antasari Azhar, red.) sama Ari (Ari Muladi, tersangka kasus pemerasan dan teman Anggodo, red.) ketemu Truno-3 (Mabes Polri kerap disebut sebagai &#8220;Trunojoyo&#8221;).</p>
<p><strong>Wisnu Subroto ke Anggodo (23 juli 2009:12.15)</strong></p>
<p>“Bagaimana perkembangannya?”</p>
<p>“Ya, masih tetap <em>nambahin</em> BAP, ini saya masih di Mabes.”</p>
<p>“Pokoknya berkasnya ini kelihatannya dimasukkan ke tempatnya Rit (nama salah satu pucuk pimpinan Kejaksaan Agung), minggu ini, terus balik ke sini, terus <em>action</em>.”</p>
<p>“RI-1 belum.”<br />
<span id="more-233"></span><br />
“<em>Udah-udah</em>, aku masih mencocokkan tanggal.”</p>
<p><strong>Anggoro ke Anggodo (24 Juli 2009:12.25)</strong></p>
<p>“<em>Yo pokoke saiki </em>Berita Acara-<em>ne kene dikompliti</em> (ya pokoknya sekarang Berita Acara-nya dilengkapi).”</p>
<p>“<em>Wes gandeng karo</em> Rit (nama salah satu pucuk pimpinan Kejaksaan Agung) <em>kok dek’e</em> (dia sudah <em>nyambung</em> <em>kok</em> dengan R)</p>
<p>“<em>Janji ambek</em> Rit (nama salah satu pucuk pimpinan Kejaksaan Agung), <em>final gelar iku </em>sama kejaksaan lagi, <em>trakhir Senen</em> (Janji sama Rit gelar perkara final dengan kejaksaan lagi, terakhir Senin).”</p>
<p>“… <em>sambil ngenteni surate RI-1 thok nek?</em> (&#8230; tinggal menunggu surat dari RI-1?)”</p>
<p>“<em>Lha, kon takok’o Truno, tho</em> (ya kamu tanyakan ke Trunojoyo, <em>dong</em>).”</p>
<p>“<em>Yo mengko bengi, ngko bengi dek’e</em> (ya nanti malam saya tanyakan ke dia).”</p>
<p><strong>Hadiatmoko ke Anggodo (27 Juli 2009, 18.28)<br />
</strong><br />
“..dan ini kronologinya saya sudah di Bang Far (nama lelaki) semua,”</p>
<p>“Sebetulnya ada satu saksi lagi si Edi Sumarsono, Pak, yang Antasari itu, Pak. Sama pembuktian lagi waktu Ari kesana, ada pertemuan rapat dengan KPK, Pak.”</p>
<p>“Ada pertemuan di ruang rapat Chandra (Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah, red.)”</p>
<p><strong>Anggodo ke Kos (nama laki-laki, red) (28 Juli 2009, 12.42)<br />
</strong><br />
“Kos, itu kronologis jangan <em>lu</em> kasih dia <em>loh</em>, Kos.”</p>
<p>“Jangan dikasihkan soalnya Edi sudah berseberangan.”</p>
<p>“<em>Cuman lu</em> harus <em>ngomong</em> sama dia: ’terpaksa <em>lu</em> harus jadi saksi,’ karena Chandra <em>lu</em> yang perintah, kalao nggak, <em>nggak</em> bisa <em>nggandeng</em>.”</p>
<p><strong>Anggodo ke seorang perempuan (28 Juli 2009, 21.41)<br />
</strong><br />
“<em>Besok kon tak ente…, ngomong ke Rit</em> (nama salah satu pucuk pimpinan Kejaksaan Agung, red.) (Besok kamu saya tunggu &#8230;, bicara ke R), Edi Sumarsono itu bajingan <em>bener</em>, sebenarnya dia mengingkari semua.”</p>
<p>“Besok penting <em>ngomong</em>. Edi <em>ngingkari</em>, Pak, padahal Antasari bawa Chandra.”</p>
<p><strong>Anggodo ke Prm (penyidik) (29 Juli 2009, 13.09)<br />
</strong><br />
“Kelihatannya kronologis saya yang benar.”</p>
<p>“Iya sudah benar <em>kok</em>, saya lihat, di surat lalu lintas. Saya sudah ngecek ke Imigrasi, sudah benar kok.”</p>
<p><strong>Anggodo ke Wisnu Subroto (29 Juli 2009, 13.58)<br />
</strong><br />
“Terus <em>gimana</em>, Pak, mengenai Edi gimana, Pak?”</p>
<p>“Edi udah <em>tak</em> omong<em>ken</em> Ir (nama salah satu jaksa di Kejaksaan Agung) apa. Ini bukan <em>sono</em> yang salah, kita-kita ini yang jadi salah.”</p>
<p>“Iya, padahal dia saksi kunci Chandra.”</p>
<p>“Maksud saya Pak, dia kenalnya dari Bapak dan Pak Wisnu (nama petinggi Kejaksaan Agung), <em>gak</em> apa-apa <em>kan</em>, Pak.”</p>
<p>“<em>Nggak</em> apa-apa, kalau dari Wisnu <em>nggak apa-apa lah</em>.”</p>
<p>“Kalau kita <em>ngikutin</em>, kan berarti saya <em>ngaku</em> Ir (nama jaksa di Kejaksaan Agung) kan. Cuma kalau dia nutupin dia yang perintah… perintahnya Antasari suruh <em>ngaku</em> ke Chandra itu <em>gak ngaku</em>. Terus siapa<br />
yang <em>ngaku</em>?”</p>
<p>“Ya, <em>you</em> sama Ar.”</p>
<p>“Nggak bisa dong Pak, wong nggak ada konteksnya dengan Chandra.”</p>
<p>“Nggak, saya dengar dari Edi.”</p>
<p>“Iya dari Edi, <em>emang</em> perintahnya dia Pak. <em>Lha</em>, Edinya <em>nggak</em> mau <em>ngaku, gitu </em>Pak, dia <em>nggak</em> kenal Chandra, saya <em>ndak nyuruh ngasihin</em> duit, <em>gimana,</em> Bos?”</p>
<p>“Ya <em>ndak</em> apa-apa”</p>
<p><strong>Anggodo ke Wisnu Subroto (30 Juli 2009, 19.13)<br />
</strong><br />
“Pak tadi jadi ketemu?”</p>
<p>“<em>Udah</em>, akhirnya Kos (nama seseorang) yang tahu persis teknis di sana. Suruh dikompromikan di sana, Kosasih juga sudah ketemu Pak Susno, dia juga ketemu Pak Susno lagi si Edi. Yang penting kalo dia tidak mengaku susah kita.”</p>
<p>“Yang saya penting, dia menyatakan waktu itu supaya membayar Chandra atas perintah Antasari.”</p>
<p>“Nah itu.”</p>
<p>“<em>Wong</em> waktu di malam si itu dipeluk anu tak nanya, kok situ bisa ngomong. Si Ari dipeluk karena teriak-teriak, dipeluk sama Chandra itu kejadian.”</p>
<p>“Bohong, <em>nggak</em> ada kejadian, kamuflase saja.”</p>
<p>“<em>Nggak</em> ada memang. Jadi dia cuma dikasih tau disuruh Ari gitu. Dia curiga duite dimakan Ari.”</p>
<p>“Bukan sial Ari-nya Pak, dia cerita pada waktu ke KPK dia yang minta<br />
Ari, kalau ditanya saya bilang Edi ada di situ, <em>diwalik</em> (dibalik) sama-sama doa, Ari yang suruh ngomong dia ngomong dia ada. Kalau itu saya <em>gak</em> jadi masalah pak, itu saya suruh…”</p>
<p>“Pokoknya yang kunci-kuncinya itu saya sudah <em>ngomong</em> sama Kosasih, kalo tidak ada lagi…nyampe…ya berarti ya enggak bisa kasus ini <em>gitu</em>.”</p>
<p>“Yang penting buat saya Pak si Ari ini, dia <em>ngurusi</em> AR (pimpinan KPK, red) segala. Ujung-ujungnya dia <em>dapet</em> perintah <em>nyerahkan</em> ke Chandra itu siapa, Pak? Kan <em>nggak nyambung</em>, Pak”</p>
<p>“Bukan Pak, dia memerintahkan <em>nyerahken</em> ke Chandra yang Bapak juga tahu, <em>kan</em>, karena <em>kalo gak</em> ada yang merintah Chandra, Pak, <em>nggak nyambung</em> uang itu, <em>lho</em>.&#8221;</p>
<p>“Memang keseluruhan tetap keterangan itu, kalau Edi <em>nggak ngaku</em> ya<br />
<em>biarin</em> yang penting Ari sama Anggodo kan cerita itu”</p>
<p>“<em>Kan</em> saksinya kurang satu.”</p>
<p>“Saksinya akan sudah dua, Ari sama Anggodo”</p>
<p>“Saya bukan saksi, saya kan penyandang dana, <em>kan</em>.”</p>
<p>“Kenapa dana itu dikeluarkan, karena saya disuruh si Edi <em>kan</em>, sama saja <em>kan</em>, hahaha…”</p>
<p>“Suruh dia <em>ngaku lah</em>, Pak, <em>kalao temenan kaya gini</em> ya percuma, Pak, punya <em>temen</em>.”</p>
<p>“Susno dari awal berangkat sama saya ke Singapura. Itu dia sudah tahu Toni itu saya, sudah <em>ngerti</em>, Pak. Yang penting dia <em>nggak</em> usah <em>masalahin</em>. Itu kan urusan penyidik.”</p>
<p>&#8220;Yang penting dia <em>ngakuin</em> itu bahwa dia yang merintahkan untuk <em>nyogok</em> Chandra, itu <em>aja</em>.”</p>
<p>“Sekarang begini, dia perintahkan <em>kan udah</em> Ari <em>denger, you denger</em> kan. Sudah selesai…”</p>
<p>“Tapi, <em>kalo</em> dia <em>nggak</em> bantu kita Pak, terjerumus. Dia dibenci sama Susno.”</p>
<p>“<em>Biarin aja</em>, tapi nyatanya dia ngomong dipanggil Susno.”</p>
<p><strong>Anggodo dengan seorang perempuan (6 Agustus 2009, 20.14)<br />
</strong><br />
“<em>Iyo tapi ditakono tanda tangani teke sopo, iya toh gak iso jawab.<br />
Modele bajingan kabeh, Yang.</em> Chandra <em>iku yo, wis blesno ae, Yang, ojo ragu-ragu</em>… (Iya, tapi ditanyakan ini tanda tangan siapa, iya toh tidak bisa menjawab. Modelnya bajingan semua, Yang. Chandra itu dijebloskan saja, Yang, jangan ragu-ragu&#8230;).”</p>
<p><strong>Anggodo dengan seorang laki-laki (7 Agustus 2009, 22.34)<br />
</strong><br />
“Menurut bosnya Trunojoyo, kalau bisa besok sudah keluar.”</p>
<p>“Dia bilang tidak bagus, karena pemberitaannya hari Minggu,<br />
orang sedang libur. Bagusnya Senin pagi, langsung main.”</p>
<p>“Truno (Trunojoyo, red) minta TV dikontak hari ini, supaya besok<em> counter</em>-nya dari Anggoro.”</p>
<p><strong>Anggodo dengan …(8 Agustus 2009, 20.39)<br />
</strong><br />
“<em>Nggak</em> usah ngomong sama penyidik. Cuma Abang saja tahu bahwa BAP-nya Ari <em>tuh</em> seperti itu. Jadi dalam posisi dia BAP, masih sesuai apa yang dia anu. Jangan sampai dia berpikir, kita bohong.”</p>
<p>“Siap, Bang.”</p>
<p>“Sama harus dikaitkan ini, seperti sindikat Edi, Ari sama KPK satu<br />
sindikat mau memeras kita, ya Bang”</p>
<p>“Iya.”</p>
<p>“Intinya si Ari sudah di BAP seperti kronologis. Kenapa <em>kok</em> kita laporkan Ari itu. Kenapa sudah laporan begini <em>kok</em> dia melarikan diri.<br />
Gitu <em>loh</em>. Dan si Edi itu di BAP itu <em>nggak ngaku</em>. Kita <em>nggak</em> usah <em>ngomong</em>. Pokoknya si Edi <em>nggak</em> tahu kita.</p>
<p>”Bang, nanti maksudnya di BAP kita nantinya, inti bahwa pengakuan itu, Bang.”</p>
<p>“Iya.”</p>
<p>“Sekarang jangan dibuka dulu. Maksudnya status si Ari itu, kita merasa Ari sama Edy dan ini <em>tuh</em>, ini kita diperas KPK sudah kita bayar. Kenapa jadi masalah begini. Gitu <em>loh</em>, Bos.”</p>
<p>“Iya.”</p>
<p>“Menurut pengakuan Ari, dia sudah membayar seluruh dana tersebut kepada orang-orang KPK, nggak tahu siapa.”</p>
<p>“Betul.”</p>
<p><strong>Al (nama seorang laki-laki) dengan Anggodo (10 Agustus 2009,17.33)<br />
</strong><br />
“Secara keseluruhan <em>apik</em> (bagus). Anggoro <em>nggak</em> lari.”</p>
<p>“<em>Kenceng dia ngomonge</em> (gamblang dia bicaranya).”</p>
<p>“<em>Kenceng. Tak rekam banter</em> mau? (Gamblang. Saya rekam keras-keras mau?)”</p>
<p>“<em>Yo wes</em> (ya sudah). Terus poin-poinnya tersasar, <em>kan</em>?”</p>
<p>“Sudah.”</p>
<p>“Tidak lari. <em>Ciamik dee njelasno</em> (bagus sekali dia menjelaskannya).”</p>
<p>“Ini ada suatu rekayasa, nampak dari pemanggilan jadi saksi terus tersangka. Tenggat waktu 9 bulan. Sudah kondusif. <em>Moro-moro</em> (tiba-tiba) karena ada testimoni, muncul pemanggilan sebagai tersangka. Secara keseluruhan oke.”</p>
<p>“Mengenai cekal, salah sasaran”</p>
<p>“Ya dalam kasus Yusuf Faisal, <em>kok</em> dicekal Anggoro. Itu bagaimana.<br />
Penyitaan dan penggeledahan juga salah sasaran. Dalam kasus Yusuf<br />
Faisal, kok yang digeledah Masaro. Pokoknya intinya sudah masuk semua.”</p>
<p><strong>Alex dengan Anggodo dan Rob (nama laki-laki 3) (10 Agustus 2009:18.07)<br />
</strong><br />
“Iya memang di cuplikan. <em>Nggak</em> banyak, tapi intinya kita berkelit, kalau ini bukan penyuapan. Karena di awal itu, beritanya dari Antasari dulu, testimoni itu. Jadi dia cuplik dari Antasari, terus baru disambung ke kita, jadi dijelaskan sama Bon (nama pengacara Anggoro), kalo itu bukan penyuapan. Dan permasalahannya, kedatangan Antasari menemui Anggoro itu juga membawa konsekwensi Antasari bisa dipermasalahkan”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harimintangtono.co.cc/?feed=rss2&amp;p=233</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

